Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Friday, October 17, 2014

Menunggu Datang Pagi



Malam tinggal separuh meninggalkan nyawanya.
Dan aku bisa merasakan embun mulai menetas.
Tapi rasa yang tinggal masih bernapas.
Semestinya aku tidak boleh merasakan ini.
Semestinya tidak.



Friday, September 26, 2014

LANCANG KUNING TAK LAGI BERLAYAR

Sajak sederhana, untuk negeriku tercinta. Bumi lancang kuning, yang kini tak bergeming.
Negeri bertuah, yang kini berulah.
Negeri melayu, kini menanggung malu.
Nakhoda berbuat nista, semua awak terkena siksa.


Tuesday, September 9, 2014

CERITA KITA

Lagi-lagi aku bercerita pada lukisan langit kita
Tentang sebuah kisah yang hampir-hampir tak bisa dimengerti
Terlalu sering bicara tentang rindu
Bahkan kerap membuatku teramat sendu
Aku memang mencintaimu



Monday, August 25, 2014

RITME "AKU YANG KEHILANGAN NYALI"


Sepersekian detik aku dan kamu berjalan diantara semilir angin yang mendera
Sekepal tarikan nafas membuatku jeda
Aku seperti menghembuskan gelembung udara
blurp .... blurp .... blurp
Diam,
Bisu,
Berhenti bicara,



Friday, May 16, 2014

SENS DE I'AMITIé


Dans la mémoire de l'amitié


Ketika hujan datang, sahabat selalu berkata,
Walaupun hujan deras nanti berhenti, persahabatan kita tak akan berhenti...

Saat musim panas tiba, Sahabat juga berkata,
Biarpun tanah retak karena kemarau, persahabatan kita akan selalu terikat erat walau dimakan zaman...

Saat cahaya matahari menyengat bumi, sahabat pun berkata,
Panasnya bumi tak akan menghanguskan rasa cinta kita kepada seorang sahabat...

Saat musim gugur itu datang, sahabat berkata,
Daun-daun kering yanggugur hanya sebatas skenario asam manis persahabatan kita...

Ketika salju mulai mendinginkan bumi, sahabat akan berkata,
Dinginnya hari tak bisa membuat persahabatan di antara kita membeku....

Setelah semua musim terlalui, dan tibalah musim semi, sahabat lalu berkata,
Indahnya musim semi seakan menjadi saksi kebadian dalam persahabatan....


“We had joy, we had fun, we had season in the sun”
 


-Iem Memories-


Saturday, February 22, 2014

SIAP MENJEMPUTMU


Aku merunduk dengan hati yang tersenyum
Kepalaku mendongak dengan telinga yang terbuka
Kepalan tanganku menguat dengan jemari yang lentur
Kakiku kupijak pada bumi dengan satu keyakinan yang mulai utuh


Logikaku siap mengurai kamu
Kini sama sekali tak gentar
Surut bukan aku sama sekali
Kapasitas maaf dan cinta semayam selamanya
Disini

Waktu direntang semesta yang akan menjawab
Aku atau kamu yang akan bertahan
Kegelisahanmu melalui umpatan naluri dilidahku terasa begitu manis
Tidak tahu aku, kamu?

Kesepakatan telah aku jalin di sini, di lubuk hatiku
Siap atau tidak aku akan menjemput kamu
Siap atau tidak aku tahu kita bisa menjadi satu
Sebaiknya kau mulai mengatur strategi bagaimana menghadapi aku kelak
Karena aku leluasa dan sulit dihentikan
Tak peduli dengan semua beban dan rintangan

Sunday, February 9, 2014

TERASA NYATA



Kamu datangi aku tadi malam, seperti mahluk rapuh yang butuh pelukan. Dan aku memelukmu lama, hingga kau tertidur diatas telapak tanganku, dan kau memindahkan wajahmu dekat hingga ke dadaku. Sekedar untuk menenangkan hatimu.
Aku menikmati napasmu yang teratur, yang tidak seperti napasku.
Dan aku menikmati bau tubuhmu dan bau napasmu yang kamu berikan secara bertubi-tubi ke seluruh wajahku.

Kamu sakit. Kamu kelelahan. Kamu khawatir. Kamu lebih dari sayang ke aku.
Aku tahu.
Karena aku juga begitu.
Karena begitu juga aku.

Kamu yang berusaha meyakinkan aku bahwa yang kamu lakukan semua demi kita.
Kamu yang melirihkan jangan pernah ada kata dusta.
Karena kau tidak ingin menerimanya.
Kamu yang menyatakan bahwa kamu pergi bukan untuk menghilang.
Kau pikir aku percaya?

Kau yang datang tadi malam
Dan selalu malam yang kau pilih untuk menghampiriku.
Karena seperti yang selalu kau katakan di setiap ada kesempatan yang kau cicil itu
Kamu menganggap aku malammu
Dan aku tersanjung

Menatapmu tertidur atau berusaha tidur itu menjadi sesuatu hal yang tidak ingin terenggut dari apapun
Ingin abadikan momen itu dalam daya ingatku, daya tubuhku, daya hatiku
Karena aku percaya selamanya kau akan ada di hatiku
Dan aku menarik napas sangat dalam sembari menyebut namamu dalam hati
Aku ijinkan kamu masuk ke relung hatiku dan mulai berwujud sesuatu yang selama ini telah mati

Malam yang hening dinihari tadi merupakan saksi abstrak akan dua manusia yang saling merasa
Meski melalui tatap mata
Tanpa suara dan hanya di alam maya
diam! adalah kata yang tepat untuk momen tadi malam.

Ketika kamu pulang kepadaku
Dan merebahkan hati, dirimu dan kepasrahanmu padaku

Aku menikmatimu selagi kau rela.
Meregukmu selama masih ada sisa waktu
Kau manfaatkan aku untuk sandaran hatimu
Aku rela
Aku cinta
Aku ikhlas
Kau juga.

Kita hanya belajar percaya
Hal ini bukan keadaan yang biasa
Kau tahu aku begitu merasakannya.
Begitu nyata.
Terasa sekali begitu nyata.

KAMU ADALAH SEJARAH TRAGIS



Begitu butuh seperti candu
Sesap hingga sesak
Terkuras hingga tandas
Kering melompong

Begitu merasa seperti kehilangan kendali
Laksana pecut yang menghabisi setiap sudut sendi
Nyerinya tak tertahankan
Aku pikir ini rasa yang mendamba

Cermin yang aku pecahkan tadi sore menyisakan perih
Wajahku terpantul melalui kepingan yang berserakan
Apakah aku menemukan kamu disitu?
Tidak, hanya aku dan luka

Tak tertandingi
Tak tergantikan
Sosokmu begitu mencekam
Seperti menenggak larutan kimia
Mudah meledak

Rusak sudah
Airnya tak terasa manis
Koyak sudah
Kisah yang tragis

Jangan kemana-mana
Kamu adalah sejarah tragis!


Friday, February 7, 2014

MENCINTAI KAMU


Seperti otomatis
Mencintai kamu
Seperti pengulangan
Merindukan kamu

Terjalin rapat
Seperti kain
Luruh manis
Seperti beledu

Hanya ingin menikmatimu
Dalam gumam dengan nada yang sama
Hanya ingin mencinta
Dalam ketukan yang sepadan

Bila ini tak wajar
aku akan tetap bersenandung
na na na na
aku sudah otomatis mencintai kamu



Wednesday, February 5, 2014

JANGAN BERGERAK

 
Secarik kertas putih tanpa noda tinta
Kamu sedang bertahta
Dicoreng oleh satu garis hitam horisontal
Kamu ingin buat lubang diatas kapal

Bidak catur diatas hamparan hitam putih
Kamu kerap kali merintih
Daun kering berguguran jatuh
Kamu sedang mengoyak-ngoyak aku yang telah luruh

Berdiri di sudut kota
Kamu menantang mata
Diam sesak sendiri
Kamu berusaha merampok hati

Tidak perlu meyakini
Penuhi saja kalbu yang sepi
Semacam semilir ingin di dinihari
Tidak perlu banyak cakap yang nantinya akan menodai

Semua ini telah begitu murni
Tetapkan saja begini
Jangan bergerak, apalagi berlari. . .

Tuesday, February 4, 2014

DUA KALIMAT YANG MENYENTAK



Meracau, lagi dan lagi
Membiarkan lidahku mengulang decak-decak tak beraturan

Mondar mandir mengelilingi satu lingkaran
Membiarkan jari-jari kakiku melengking mengikuti gurat tanah

Menghela napas diantara helai rambut yang turun diwajahku
Meniupnya dengan ujung bibirku dan merasakan ujungnya yang terbelah

Bibirku meruncing minta satu teguk rasa
Jemariku meremas nadi yang tenggelam diantara detak waktu

Memohon akan sebuah penjelasan diantara dua keping bintang
Mengapa luka ini masih menganga dan mengucurkan nanah?

Terjalin kata-kata dalam benak seperti jaring laba-laba
Menempel lekat di langit-langit hati

Dua kalimat menyentak
Bukan waktu yang menyembuhkan luka ternyata
Tetapi waktu yang mengajari bagaimana cara menghadapi luka

Jari kakiku berhenti melengking
Lidahku berhenti berdecak
Bibirku berhenti meruncing
Dan membiarkan waktu mengajari aku bagaimana cara menghadapi luka


Monday, February 3, 2014

TENTANG RINDU


Tentang rindu yang kian mengganggu
Datang menggelitiki di ujung waktu

Tentang rindu yang menggebu
Membentur ingatan di zona pilu


Rindu yang mengusik
Rindu yang membuat semua kian uzur
Rindu yang seakan mengundang bencana
Rindu yang kian membuat aku lumer, hilang akal
lantas gila

Tentang rindu yang menyayat kalbu
Hadir bagai bencana
Tsunami? Gempa?
Tak ada apa-apanya
Lebih dari itu
Kiamat

Tentang rindu yang tersekat
Aku jadi kehilangan kesempatan, waktu, akal sehat!

Tentang rindu yang menjerat
Aku mati langkah,
Mati sudah

INI BUKAN MATEMATIKA DAN LOGIKA


Senantiasa ada dan menghentak
Menghunus seperti rasa berani
Tetapi senja yang timbul tenggelam
Membuatku ragu untuk berujar

Semua serba kabut tipis
Seperti labirin yang terkoyak
Debu beterbangan tak tentu arah
Salah satunya hinggap dipucuk hidungmu
Ingin rasanya kukecup dengan ujung bibirku

Merasakan kamu seperti menikmati satu gelas teh tawar hangat
Tidak perlu manis yang menyengat
Hangat saja sudah cukup membuat relung dadaku tersekat

Merenungi kamu sebelum aku rebah
Menikmati bau kulitmu yang seperti bau matahari
Menghirup bau napasmu yang seperti bau kasturi
Tak perlu aku julurkan lidahku untuk merayu
Kehadiranmu sudah membuatku gundah

Diam saja disana
Di pojokan ruang tempat biasa
Biarkan aku tetap menelan kekaguman akan semua rasa
Jangan bergerak
Aku tidak lagi ingin tersedak
Oleh rasa yang aku persilahkan masuk dan mulai terasa sesak

Jangan dihitung
Ini bukan matematika dan logika
Tetaplah diam seperti sebuah karya pahatan patung
Aku sudah mengunci rapat kedua telinga

Jangan beranjak
Aku sudah pada titik ingin berteriak
Bahwa hatiku telah terinjak

Wednesday, January 29, 2014

MUNGKIN DIAM ADALAH BENAR


Senyummu begitu getir
Ujung mataku menangkap itu

Mata kita begitu galau
Hatiku merasa kita berdua seolah retak

Tapi aku tidak percaya pada pecahan kaca
Aku menyandarkan keyakinanku pada hatimu

Mulutku bergumam tidak menentu
Lidahmu telah menyusun banyak kata namun tak terucapkan

Kita seperti si tuli dan si bisu
Tapi sayangnya hati kita telah bertaut

Cerita kita belum bisa menjadi ikhtisar
Karena dia masih menjadi sebuah konsep kasar
Dua ego yang sedang meraba dalam dua iklim

Mungkin diam adalah benar
Untuk sementara sebaiknya kita hening
Meredam dendam dan amarah

Semoga itu tidak membuat rasa kita seolah-olah menjadi pudar
Terlalu dini
Terlalu singkat
Untuk menyatakan bahwa perpisahan adalah yang terbenar


Tuesday, January 28, 2014

REFLEKSI HATI DIKALA SENJA


Seuntai bibir berwarna jingga
Bukan mulut yang berkelana
Melainkan jiwa
Meski matanya sangat dunia
Aku tetap memuja

Dia luruh bagaikan pasir hisap
Beberapa menit dia biarkan aku hinggap
Aku lalu lalang
Terbang semacam belalang

Sana sini
tabuh aku dalam hatimu
Kemari kesana 
redam aku dalam hingar bingarmu
Di situ di ujung sana 
tangkap aku dalam genggamanmu
Sekarang, saat ini 
rebahkan aku dalam sosokmu



Senja di pinggir kota lunpia
28.01.20014

Wednesday, January 22, 2014

HINGGA KE DASAR KESADARAN



Menjelajahi dirinya dengan sekian hela napas yang tersisa
Tertinggal rasa yang terasah
Tanpanya, ruangan serasa kedap suara
Menghisapku hingga ke dasar kesadaran
Mendambanya
Kembali
Kembali kepadaku

Ku usahakan membuat pudar sinyal yang nyata
Ku abaikan lubuk hati yang telah memberikan jawaban
Mungkin dia, mungkin tidak, mungkin saja
Aku sibuk mengunyah curiga
Menelan bulat-bulat simpatiku agar tidak menjadi empati

Berkali aku bilang cukup dan sudah
Tapi kerap kali sanubari memanggil dan mendekap
Seluruh dia berkubang dalam angan yang terbang diatas awan
Semacam kain basah yang teronggok kusut di sudut ruangan
Dia tidak berpaling dan pergi
Dia justru mendekat dan menggenggam erat

Aku tetap sibuk merajam dan menghukum diri
Tak pantas, tak mungkin, mungkin pantas?
Caci maki sibuk hilir mudik
Rendah diri menjadi hantu gentayangan
Aku menghamburkan duka ke udara

Kali ini 
Tanpa suara
Karena rasanya luar biasa

Jatuh rasa, sekali lagi
Sekali lagi ...
Sekali lagi ...
Menginginkannya ...
Hingga ke dasar kesadaran. . .

Tuesday, January 14, 2014

AKU PAHAM SEKARANG


Dengan mataku yang dikutuk menjadi kelereng ini aku memperhatikan perempuan itu
Muda, biasa, tapi bias sinarnya kemana-mana
Ada sesuatu disana, dihatinya, dimatanya, dibibirnya
Banyak luka terbuka
Bertaburan asa
Mudah dibaca
Sederhana

Dengan jariku yang disulap menjadi airmatanya aku meleleh diatas pipinya
Batinnya merintih, lidahnya ingin menjerit, tapi yang terlihat hanya senyum
Aku semakin deras mengalir di pori-pori wajahnya, turun dengan perlahan tetapi pasti, pipi, hidung, ujung bibir dan mati pada ujung bajunya yang berlapis dua
Membekas basah
Aku lebur

Aku biarkan lidahku yang disulap menjadi jantungnya merasakan betapa ia kesulitan untuk hanya sekedar mengambil napas
Dia sama sekali tenggelam dalam detak nadinya sendiri
Dia kerap kali menarik napas panjang hanya untuk membuat dirinya yakin dia bisa hidup lebih lama
Untuk lebih lama lagi menanggung rahasia yang mesti ia emban
Ia tersiksa sekaligus bahagia
Kejap matanya
Sudut bibirnya
Ujung hidungnya
Jentik jari manisnya
Puting payudaranya
Katup jantungnya

Semuanya mengandung rahasia

Aku memperhatikan dengan mata kelerengku tiap kali dia menyibak rambut panjangnya
Setiap dia mengucap jutaan bahasa yang disamarkan dengan tawanya
Aku menemukan satu kata
GETIR

Lidah rapuhnya
Telinga manisnya
Kuku mungilnya
Urat dikulitnya
Asap rokoknya

Semuanya mengandung rahasia

Aku menemukan kata kedua
MISTERI

Dia menoleh ke aku, yang serta merta kembali menjadi cermin
Dan dengan warna hatinya yang terlihat jelas melalui sorot matanya
Dia katakan bahwa, ”kata yang ketiga tepatnya adalah LILIN”.

Detik itu juga aku paham.
Ya, Aku paham sekarang!

=====

 *Teruntuk dirimu yang masih belum mengenal dirimu yang sebenarnya. Tujuan yang suci bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri. kuharap kau paham. kuharap, satu hari nanti kau kan kembali dijalan cahaya.

Monday, January 13, 2014

CINTA DATANG JUGA!



Di antara debu – debu yang terbang
Elang meloncat
Menangkap awan
Menyeret angin kecil
Bergerak kecil rambut hitam
Menuju satu titik
Bersayap biru
Aku di sini,
Mataku nanar, setengah terbang ke elang
Itukah cinta?


Oh, tidak. . .
Cinta yang kutunggu
Benar – benar datang
Begitu muda

Cinta.. Cinta.. Cinta..
Ia datang

Cinta, sini
Pegang dadaku, dan jamah hatiku. . .!



*Aku ingin jatuh cinta setiap hari. aku ingin apapun kulakukan karena dorongannya cinta. karena kuyakin, cinta mampu memberikan cahaya yang mengantarkan kepada keikhlasan dan kebahagiaan.*

Friday, January 10, 2014

POTONGAN HATI SEMUSIM LALU


Semusim yang lalu
Sudah kuberi sepotong hati
Pada sang bidadari

justru hanya menjadi tempat berlabuh
Di istana kerajaan Fantasi


Tatkala sang bidadari datang
Melirik potongan hati yang lain

Aku dengan cepat mengalihkan perhatian
Meski darahku mengisi lubang
Meski nyawaku menyerpih

kupalingkan wajahku
 

Tanah semakin tua, merah tua
Ditumbuhi bambu kuning

Bersulur hijau
Tlah terbuang potongan hati
Untuk sang bidadari

Tertimpa kenangan-kenangan
Yang tersisih dari lubuk hati. . .

Kini, aku ingat,
Bagaimana kisah, cerita, dan kehidupan
Tentang cinta
Dalam kisah potongan hati semusim lalu.



*FOR SOMEONE

APAKAH AKU ADALAH AKU?



Kadang, dalam hidup ini memang banyak hal yang tidak bisa aku duga. Seperti perasaanku yang berkembang begitu dahsyatnya pada seseorang. Semua rasa yang aku timbun kepadanya seperti letupan kembang api, seperti ledakan granat, seperti bunga yang sedang mekar, seperti remaja yang sedang jatuh cinta pada pertama kalinya. Putaran rasanya seperti komedi putar, membuat keseluruhan diriku berputar seperti gasing.

Tapi ada beberapa hal juga dari proses merasakan ini yang membuatku tidak nyaman, seperti perasaan rindu, cemburu, perasaan ingin memiliki, marah, menunggu, cemas, dan lain-lain. Sepertinya pusaran hidupku akhir-akhir ini hanya kepadanya, terpusat kepadanya. Dan itu yang aku tidak suka.
Aku adalah seseorang yang selalu menghindar untuk bereksperimen dengan diriku sendiri. Aku selalu lari dari proses, menghindar dari perubahan, malu berhadapan dengan diriku sendiri.
Itulah yang sedang aku renungi beberapa waktu belakangan ini.
Hidupku sangat dinamis, berputar sangat cepat, jungkir balik, naik turun, berkelok dan seringkali terhempas ke lembah yang tidak aku kenal.

Aku bisa merasakan diriku asing.
Aku bisa merasakan diriku terbang.
Aku bisa merasakan diriku telanjang.
Aku bisa merasakan diriku menari.
Aku bisa merasakan diriku orgasme.
Aku bisa merasakan diriku mencari tubuhnya di dalam tubuhku.

Aku seringkali mencari sesuatu yang terlalu abstrak untuk kucapai.
Tapi pembenaran yang kupakai di otakku, bukankah hidup itu memang absurd?
Kau selalu tidak bisa menebak apa yang akan terjadi 10 menit kemudian dalam hidupmu?
Kau selalu tidak bisa menebak apa yang ada dibenak dan dipikiran seseorang tentang dirimu?
Dan itu yang membuat aku menderita saat ini.
Ketika kamu mencintai segala yang ada pada diri seseorang tetapi yang bersangkutan tidak mampu menyadarinya.