Tuesday, January 7, 2020

Jualan Laris di Instagram, Begini Caranya

Dalam satu keadaan, saat kita tidak bisa membayar hutang, tidak bisa meringankan beban, atau bisa jadi keadaan kita selalu dalam keterpurukan dan tidak memungkinkan untuk punya uang. Apa yang salah?

Apa karena TAKDIR?

Atau, jangan2 CARA BERFIKIR yang menjadi penyebab utama dari semua ini?
Hallo👋
Selamat pagi semuanya😊
Apa Kabar kalian yang saat ini mungkin sebagian sudah sibuk dengan pekerjaan, dan sebagian lagi masih sempat mampir membaca postingan ini.

Dimanapun kawan-kawan berada, semoga kesehatan dan keafiatan selalu menyertai kita semua.

Baik. Jadi begini, kawan.

MENTAL KAYA dalam melakukan suatu hal baru diperlukan dalam Bisnis. Itu dulu yang harus dipahami dan ditanamkan dalam diri kita masing-masing.

Nah, sebenarnya, yang ingin saya share di sini adalah sesuatu yang baru dalam memahami perubahan algoritma 'INSTAGRAM'. Mengingat algoritma medsos dan marketplace itu kan sering berubah-ubah tiap saat, jadi kadang bagi yang tidak ngerti bakal ketinggalan update keilmuannya. Kalau sudah begitu, rugi dong tiap kali posting jualan pengunjungnya gak nambah-nambah. Dan karna tidak updatenya kamu tentang ini, maka kamu tidak bakal sadar bahwa ALGORITMA yang berubah-ubahlah yang si penyebab masalahnya.

Pasti semua pengen dong kalau posting jualan di instagram banyak yang nge like, comment dan langsung banjir orderan? Pasti pengen kan😊😊
Wajar itu, kawan. Siapa sih yang gak pengen. Tiap jualan produknya banyak yang minat trus banjir orderan. bila ada harapan seperti itu, berarti kalian sama dengan semua pengusaha, kawan. Itu hal yang bagus dan bukan hal yang bisa dikosa-katakan 'ngarep'. Melainkan itu adalah sebuah keinginan. Nah, keinginan inilah yang menjadi titik awal dari mencari tahu, belajar, berusaha, ikhtiar, dan terakhir yang banyak orang lupa adalah mengembalikan ilmu itu kembali kepada orang-orang yang membutuhkan. Singkatnya, apa yang kalian dapat harus kalian sharing jika kalian mau ilmu kalian awet dan bermanfaat.

Kembali ke pembahasan.
PERUBAHAN ALGORITMA INSTAGRAM saat ini makin menyulitkan user yang berprofesi sebagai seller😢. Tahu gak ? kalau di awal tahun ini algoritma instagram berubah drastis sehingga perlu analisa ulang yg butuh kelihaian.

Algoritma ini penting, kawan. Algoritma ini diibaratkan prosedur langkah-demi-langkah untuk penghitungan. Jika di Instagram, algoritma ini kerjanya menentukan postingan siapa yang muncul di menu home. Postingan siapa yang akan diletakkan di puncak. Postingan siapa yang jadi recommended post untuk user2 lain terkait. Semua itu yg nentuin adalah ALGORITMA.
Sekarang, dikabarkan bahwa hanya 10% dari followers kamu yang benar-benar melihat postingan kamu di timeline mereka. Pasti hal ini juga bikin frustasi para konten creator, kan? memikirkan konten apa yang harus ditampilkan di Instagram. Hahaha. Udah pusing bikin konten malah dibikin pusing pula sama perkara ini😀.

Dan kita2 yg sebagai pebisnis online, tentu ingin bisnis terus berkembang walaupun algoritma instagram mengalami perubahan, kan ? Pasti pengen akun kita punya banyak kunjungan tiap saat. Follower nambah terus, tiap posting banyak yang like, malah kalau bisa banyak yang repost juga. Hehe
Solusinya, kita harus bisa mensiasati semua perubahan yang dilakukan oleh instagram!

Kawan, jadi sekarang kamu harus pelajari algoritma Instagram sebelum terlambat! Mungkin saat ini saya belum bisa share di sini karna saya juga masih mengulik detail demi detailnya. Tapi jangan khawatir. Kalau perkara ini fix terpecahkan, nanti saya posting dan silahkan kalian terapkan. 

Jadi, pantau terus postingan kami di halaman ini. Jangan sampai nanti kalau kami sudah posting updatenya kawan2 sampai tidak tahu ya😊. Kan kamu jadinya rugi! Hehe😊😊

Biar gampang, kamu share postingan ini ke beranda fb kalian masing-masing. Jadi, tiap kali kalian buka profil FB kalian, kalian bakal ingat dan ngecek ke sini.

Itu dulu untuk pagi ini. Jangan lupa, pelajari tentang algoritma, supaya jika ada pembahasan tentang algoritma kalian tidak kesulitan dalam memahami.

See u next👋
Good Night😗

#SHARINGBISNIS


Tuesday, December 24, 2019

Cara Membuka Situs Dewasa Yang Diblokir Pemerintah 2020 (100% WORKS)


Anda pasti pernah mencoba mengunjungi sebuah website yang diblokir oleh pemerintah atau internet positif.

Walaupun anda telah memasang plugin anonymox sekalipun website tersebut masih di blokir  oleh operator penyedia Internet.

Biasanya situs yang diblokir pemerintah adalah situs situs p*rn*grafi , situs perj*dian , situs jual beli barang barang ilegal, situs download ilegal dan situs situs paham radikal.

Cara Ampuh Buka Situs yang Diblokir Tanpa Aplikasi 100% Work

Cara yang umum dilakukan adalah anda harus mendownload aplikasi tertentu atau dengan melakukan seting vpn pada android untuk membuka sebuah website yang diblokir atau dijaga oleh internet positif , tentunya itu akan sangat menyusahkan dan ribet.
Akan memakan banyak waktu, menghabiskan kuota dan akan membuat memori PC/Hp menjadi penuh dan mengakibatkan lemot.

Tapi tidak usah khawatir saya memiliki sebuah trik untuk Membuka situs web yang diblokir internet positif / diblokir pemerintah tanpa harus menginstal anonymox di mozila firefox ataupun seting vpn yang rumit.

Cara Ampuh Membuka Situs yang Diblokir di Android Tanpa Aplikasi ( 100% Work )
  • Caranya cukup mudah yaitu dengan menggunakan proxy dari luar negeri dengan mengunjungi alamat www.alatekno.com

    Cara Ampuh Buka Situs yang Diblokir Tanpa Aplikasi 100% Work


  • Pada web tersebut ada banyak pilihan server proxy anda tinggal pilih salah satu saja sebagai contoh pilih : US Server

  • Pilih Mulai
  • Tunggu beberapa saat maka halaman website / situs yang diblokir internet positif akan bisa dibuka

Menurut pengalaman saya selama ini semua web yang diblokir pemerintah dan diblokir internet positif penyedia provider internet bisa dibuka lewat web proxy diatas. Lebih cepat dan tanpa ribet harus pasang pengaya proxy di browser anda.

Cara Ampuh Membuka Situs / Unblock situs yang Diblokir Tanpa Aplikasi dan Vpn ( 100% Work ) diatas juga bisa digunakan langsung melalui browser smarthphone android milik anda.


Friday, December 20, 2019

Thank You, Mak - Selamat Hari Ibu


Mak, terima kasih atas semua doa-doa yang telah diberikan kepadaku, tanpamu aku tidak akan pernah bisa seperti ini.

Mak, engkau telah memberikan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus untukku. Terima kasih untuk semua yang telah Emak berikan.

Mak...
Betapa besarnya cinta dan kasih yang telah kau berikan kepadaku sejak aku masih di dalam kandunganmu. Hingga saat ini aku sudah beranjak dewasa engkau masih menjadi orang yang selalu ada buatku. Terima kasih untuk semuanya, Mak. Semoga Allah selalu memberikan cahaya kepadamu.


Mak, terima kasih untuk semua rasa cinta dan kasih sayang tulus yang telah kau berikan kepadaku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk semua yang ibu berikan. Meskipun aku membalas semuanya dengan nyawaku sendiri, itu takkan bisa membalas semua jasa yang telah Emak berikan kepadaku.

Terima kasih untuk semua peringatan atau omelan yang telah Emak berikan kepadaku. Sehingga aku bisa jadi tau mana yang baik dan mana yang buruk.

Mak, terimakasih untuk semua perhatian yang telah Emak berikan untukku, aku sangat sayang ibu.

Mak, selamat hari Ibu. Meski hari ibu tak menentu entah kapan. Tapi hari ini anggap saja hari spesial untukmu sebagai Ibu. Walau terkesan ikut-ikutan, setidaknya daripada tidak sama sekali. 

I love you, Mak...
Selamat hari ibu!


Wednesday, December 16, 2015

KAMPRET, GUE DIGANTUNGIN!

Hay you... What’s up u guys...?

Welcome again in my blog after a long  time I gak pernah nongol.


Kali ini Ane bakal bikin postingan yang.... sumpah, ‘HORROR’ banget! Tapi ini gak horor kok. Sumpah! Gak ada hubungannya sama pocong-pocongan, kuntil-kuntilan, gombel-gombelan, tuyul-tuyulan, apalagi sama cabe-cabean. So, don’t cry... don’t be sad. Kamu cantik,cantik, dari hatimu..... J


Oke! Serius!


Ini pertanyaan serius yang gak perlu kalian jawab. Cukup simak dan hayati!


Apa kamu tahu apa itu ‘digantung’?







Diiket pake tali di atas pohon mangga atau di atas loteng rumah dan biarkan menjulur ke bawah!


Ya...! Itu benar. Tapi bukan itu yang Ane maksud.


Digantung yang satu ini adalah digantung dalam konteks yang berbeda. Atau lebih tepatnya dalam konteks hubungan antara kamu sama si doi.


Kamu gak tahu hubungan kamu sama si doi apakah hanya sekedar ‘temenan’ atau ‘pacaran’. Atau, lebih mudahnya, misalkan kamu nembak orang, pas kamu nembak, dia ngasi jawaban yang ngga pasti. Jadi, antara nolak sama nggak nolak. beda banget sama PHP yang hanya memberi harapan PALSU.


Kadang, kalau kita tahu kalau kita ini sedang digantung rasanya sakit banget. Percuma pacaran lama-lama tapi ujung-ujungnya digantungin. Pacaran lima tahun, udah kepalang pengen kawin, malah digantungin. Ya ampun! Sedih bangeeet. Mana selangkangan keburu berjamur, lagi!


Ada juga gantung dalam konteks melakukan sesuatu. Tapi kalau yang ini gak pake awalan ‘di’. Cukup gantung, bukan digantung.


Nah, ini maksudnya sama dengan nanggung. Kamu melakukan sesuatu, pas udah mau kelar, ada sesuatu yang menghalangi pekerjaan yang sedang kamu lakukan itu gak jadi kelar. Contohnya: kamu lagi tiduran di kamar sambil khusyu’ nonton bokep. Saking khusyu’nya adegan demi adegan kamu hayati. Bahkan sesekali kamu mengelus.... Idih, malu sih sebenarnya mau ngasi contoh ini. Gak jadi deh!


Nahhh..... Gantung kan? Ya itu, gantung! Haha... gak jelas coi...!


Oke, balik lagi ke ‘digantung’.


“Kampret, Gue digantung!”


Setidaknya bukan Ane yang bilang dan ngalamin hal itu. Setidaknya, sampai saat ini, Ane bersyukur karena belum pernah ngerasain gimana sakitnya digantung. Gak tahu juga gimana kalau seandainya Ane digantung. Gak kebayang gimana galau dan frustasinya Ane hanya gara-gara digantungin. Tapi, yang jelas, Ane pesan ke teman-teman semua, kalau kamu digantung mending tinggalin aja yang ngegantungin kamu. Dari pada digantungin nggak jelas mending cari yang jelas dan ke depannya bisa bikin hati adem.


Terus, siapa yang sebenarnya digantung?


Blog yang kamu baca ini!  


Ya, hidupnya sudah cuap-cuap minta dikunjungin tapi gak ada yang ngunjungin. Gimana mau dikunjungin, coba, diurusin juga nggak. Haha.. Parah!


Blog ini udah kaya rumah yang penuh dengan debu dan penuh dengan jaring laba-laba disetiap sisinya. Ditambah lagi, blog ini sudah teramat angker dan dihuni banyak hantu. Seandainya tiga kali azan lagi tuannya gak datang buat bersihin dan ngisi blog ini dengan postingan yang gak penting-penting amat, bisa jadi blog ini bisa ngeposting tulisan sendiri. Ya, postingan dengan satu kata: ‘Expired’.


Saking jarangnya si ‘tuan blog’ datang buat ngisi postingan di blog ini, kalian bisa lihat sendiri list postingan yang ada di sisi bawah samping kanan, hanya tiga tulisan (termasuk tulisan ini) yang dihasilkan di tahun 2015, sementara kita sudah berada dipenghujung tahun dan akan memasuki tahun 2016. Artinya, tiga tulisan sama dengan 3x posting. Bayangin, tuannya cuma ngunjungin gak lebih dari 5x dalam setahun. Kebayang gak tuh gimana jablai-nya blog ini?


Saking jarangnya juga si ‘tuan blog’ ngunjungin blog ini, tuan blog baru ngeh kalau kemaren sempat ada salah satu anggota Blogger Energy yang ngerasa kalau dirinya itu baru pertama kali ngunjungin, ngucapin salam kenal, plus ngasi komentar di blog ini. padahal sebelum-sebelumnya juga udah pernah dan sempat ngasi komentar beberapa kali. Yup... Dia adalah Mbak Meyke, owner of Melted Javanese Sugar. (Promosi Cuma-cuma... haha). Tapi bukan salah dia juga sih yang dengan mudahnya melupakan Ane. Salah Ane juga yang jarang ngurusin blog dan nongol di grup BE. Mbbbaaaak.... jangan lupain aku, plisss....







Hahaha.... ASSUdahlah...... 



Wassalam.... (Gantung, kan? hahaha)


Thursday, October 1, 2015

Emakku Sayang, Emakku Malang Part I "Introduction"

Hai semua...

Setelah beberapa lama tidak memuat postingan dalam blog abal-abal ini, kali ini ane bakal membuat postingan yang niatnya, sih, mau lebih serius dari postingan-postingan sebelumnya. Ya, kalau postingan-postingan sebelumnya bisa dikatakan sepenuhnya ngawur dan tak memiliki esensi edukasi di dalamnya, maka kali ini ane mau postingin sebuah postingan terkait niat project ane. Apakah itu???

Jreng... Jreng....!

Jadi, sempat kemarin-kemarin, ya udah lama juga sih, mungkin sudah setahun lebih, ane punya niat untuk membuat sebuah karya sastra yang mengangkat tema tentang permasalahan yang terjadi di kampung halaman ane, Riau. Rencananya ane mau buat cerita kaya novel-novel githu. Tapi karena kemarin-kemarin sempat terkendala oleh beberapa hal, plus rasa malas yang tak berujung, jadinya ketunda dan ketunda terus, deh!



Tuesday, July 14, 2015

AKU MASIH INGIN NGEBLOG 1000 TAHUN LAGI




 Assalamu'alaikum...

HAI! Udah lama banget enggak ngeblog. Like literally lama banget. Udah mau setahun aja, ya? Kayaknya udah enggak ada yang baca blog ane lagi deh. Wakaka... Dulu pas ane masih masih SMA, kerja, sampai jadi junior di kampus gencar banget nulis postingan. Emang naluri kali, ya, suka banget ngetik curhat curhatan yanggg.... hmmm... wkwk....  Aku mah apa atuh!


Setahun itu waktu yang lama banget gak sih? Ane merasa berubah banget dalam setahun ini. Entah sifat, pandangan akan sesuatu, atau apapun, deh. Dari telur menjadi ulat, terus jadi kepompong, terus jadi kupu-kupu. Terus kupu-kupunya terbang, malam-malam lagi. Terus nongkrong pinggir jalan. Senyumin setiap orang yang lewat. Ada yang berhenti ditawarin, “200ribu aja, Mas...”  Hmm... %&^($*#$% ??? Apaan sih?


Pas ngepost posting yang terakhir tuh lagi abis liburan semester genap. Sekarang udah mau liburan semester genap lagi. Udah setahun aja. Ibarat rumah, blog ini udah lumayan lusuh. Udah ada sarang laba-labanya. Tapi sarangnya aja, sih. Laba-labanya ngumpet entah kemana. Kan sayang bikin sarang gak dihuni. Apa gak rugi, tuh? Bikin sarang nggak dimanfaatin. Habis berapa juta coba!


Btw, karna ini postingan pertama di tahun 2015, ane mau cerita-cerita sedikit tentang blog ini. Mana tau bisa bikin semangat lagi buat ngeblog. Ya, gak?


Dari iseng-iseng saat galau terkekang di pesantren. Dari kebutuhan akan sarana ngeluarin unek-unek yang mungkin susah jika diperbincangkan lewat dunia nyata, hadirlah blog ini. Diawali dengan postingan tanggal 17 April 2008 yang berisi tentang perkenalan saya ngeblog di blogspot. Tulisan yang biasa saja. Lebih condong jelek.


Setelah setahun umur blog ini, ane merasa tulisannya tetap gak bermutu. Tidak meningkatkan intelektualitas, IQ apalagi keimanan. Lucu pun tidak. Malah terbilang melow karna ane sering ngisi tulisan berbentuk puisi di blog ini. Awalnya sempat mikir juga, sih, apa gunanya blog ini selain sebagai alat pelampiasan unek-unek? Apa coba? Gak ada, kan? Gak ada. Titik.


Banyak jajaran blog yang keren-keren. Baik dari segi desain atau isi. Mulai dari yang politik atau sosial, atau murni blog komedi atau humor, atau kombinasi keduanya. Mulai dari yang tenar lantaran si pemilik blog itu cakep luar biasa sampai blog yang sepi pembaca meski sudah dibela-belain nyuri foto di internet (entah punya siapa) untuk dipajang sebagai avatar. Lha, Ane? Entah dimana posisi blog ane ini.


Sampai saat ini (lebih kurang 7 tahun), ane hanya menulis sekitar 130an (termasuk postingan yang ane hapus). Isinya tulisan tak bermutu. Tidak produktif kalo dilihat sebagai blogger karena bisa diasumsikan Ane hanya menulis beberapa kali dalam setahun. Ada musim dan ada jedanya. Saat musim semangat mungkin bisa nulis 10-20 postingan dalam sebulan. Tapi setelah datang musim malas, libur berkepanjangan hingga berbulan-bulan. Tapi kalo dilihat sebagai fiskus, saya juga tidak produktif, karena bukannya kerja dengan tekun saya malah ngeblog. Ya saya manusia yang tidak produktif baik dari segi iseng maupun seriusan.


Meskipun begitu, ngeblog juga ngasi manfaat yang terasa banget buat ane. Banyak teman yang ane dapat dari ngeblog. Gak usah disebutin satu-satu. Karena satu-satu aku sayang ibu! Senang rasanya bisa mengenal banyak orang hebat (versi saya). Dari mereka ane bisa berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Bisa berbagi cerita tentang pertualangan-pertualangan seru. Dan yang lebih seru, tahu bagaimana dapet uang dari internet. Waaaahhhh! Yup... Mulai dari mereka yang memiliki bisnis rumahan berbasis online, sampai dengan bisnis digital yang berbasis hacker. Berteman tanpa pernah tatap muka. Lumayan menyenangkan. :-)

Semoga ane masih tetep bisa semangat ngeblog nyuri-nyuri waktu di sela waktu ngampus yang sudah masuk waktunya jadi mahasiswa tua. Mengutip puisi Chairil Anwar, “Aku masih ingin ngeblog 1000 tahun lagi!”



Wassalamu’alaikum....


Sunday, October 19, 2014

'Udud' dan Makna Filosofi-nya



Bismillahir Rohmaanir Rohiiim....

Semoga aja ane nulis ginian atas dasar kesadaran, eh atau penyadaran ya? He
Sebelum berlanjut, disamakan dulu pemikirannya. Oke? Udah pas? Ha? Belum?
Udud itu apa sih?
 Udud itu asal katanya dari bahasa Arab. Fiil madhi = a’da. Fiil mudhori’= ya’uudu. Masdar= ‘uduudun. Artinya apa ya? Haduuhh. Ane juga lupa. Hahaha. Kena lo pade. Bukan, udud itu bukan dari kata bahasa arab. Yang benarnya dari bahasa bahasa yunani kuno: Uddho


Friday, October 17, 2014

Menunggu Datang Pagi



Malam tinggal separuh meninggalkan nyawanya.
Dan aku bisa merasakan embun mulai menetas.
Tapi rasa yang tinggal masih bernapas.
Semestinya aku tidak boleh merasakan ini.
Semestinya tidak.



Friday, September 26, 2014

LANCANG KUNING TAK LAGI BERLAYAR

Sajak sederhana, untuk negeriku tercinta. Bumi lancang kuning, yang kini tak bergeming.
Negeri bertuah, yang kini berulah.
Negeri melayu, kini menanggung malu.
Nakhoda berbuat nista, semua awak terkena siksa.


Tuesday, September 23, 2014

HANYA BERKELUH KESAH



Banyak orang berkata, " aku suka dia, karena tampan". atau yang paling banyak kita dengar, " aku suka dia karena dia baik", atau mungkin pernah dengar yg lebih ironis " aku suka dia karena kaya". Hal yang sering kita dengar bukan? Entah berapa banyak orang yang berkata demikian. Dan sialnya, itu tidak hanya berlaku dalam hal percintaan, tapi juga pertemanan, persahabatan bahkan sampai kepada internal kekeluargaan. 


Monday, September 22, 2014

SATU RAGA DUA JIWA "SILIT & SULIT"



Di negeri sebelah, ada dua kalangan utama yang menjadi penduduk mayoritas negeri tersebut. Kalangan silit dengan kerah putih dan kepandaiannya dalam mengolah suatu peristiwa, sehingga sepertinya negara itu menjadi negara yang terlihat sejahtera, aman, makmur dan sentosa.Lain lagi dengan kalangan sulit, yang merasa tercekik dengan kehidupannya di negeri miliknya sendiri. Kekayaan, keanekaragaman, dan kemakmuran yang digembor-gemborkan dan dibaca di berbagai buku pelajaran saat mereka bersekolah sepertinya hanya cerita dongeng dari negara antah berantah yang bisa diimpikan dan dibayangkan oleh mereka. Tidak dirasakan.



Tuesday, September 9, 2014

CERITA KITA

Lagi-lagi aku bercerita pada lukisan langit kita
Tentang sebuah kisah yang hampir-hampir tak bisa dimengerti
Terlalu sering bicara tentang rindu
Bahkan kerap membuatku teramat sendu
Aku memang mencintaimu



Monday, August 25, 2014

RITME "AKU YANG KEHILANGAN NYALI"


Sepersekian detik aku dan kamu berjalan diantara semilir angin yang mendera
Sekepal tarikan nafas membuatku jeda
Aku seperti menghembuskan gelembung udara
blurp .... blurp .... blurp
Diam,
Bisu,
Berhenti bicara,



Sunday, August 24, 2014

MOVE ON "YOUR THOUGHTS IS GONNA BE YOUR ACTIONS"




 
Jika dihitung dari beberapa jam terakhir, emosiku serasa diaduk-aduk oleh 2 orang dengan latar belakang yang berbeda. Abeng, rekan kerjaku dulu waktu masih menjadi Leader Sales Promotion.


Tuesday, June 17, 2014

OVER 22

Pertama-tama saya ucapkan terimakasih banyak atas doa teman-teman di postingan ultah saya sebelumnya.

Gak terasa juga sudah 22 tahun saya di bumi Allah ini :) 22 tahun; mendapatkan apa yang nggak pernah kepikiran akan saya dapat, mencapai apa yang saya kira nggak akan tercapai. Kehilangan apa yang saya pikir gak akan kehilangan, lalu Ia gantikan dengan yang luar biasa; lebih baik dari yang saya minta. Untuk setiap hela napas yang masih bisa saya rasakan, untuk hidup saya yang sangat berwarna, yang kalau dilihat-lihat lagi, emang nggak ada kata lain kecuali ‘syukur’ Alhamdulillah.


Sunday, June 15, 2014

I'M TURNING 22 :)



*Ini adalah perkara meminta…  Betapa sering saya menginginkan sesuatu tapi tak sungguh-sungguh meminta, aneh kan? kepada siapa lagi saya akan meminta, kalau bukan Allah yang memiliki segalanya. Selama ini saya hanya ‘marah’ mengapa Allah tak kunjung memberikan apa yang saya inginkan, marah pada orang-orang yang selalu ‘bertanya-tanya’ sesuatu yang membuat saya terusik. Astaghfirullah.......


Thursday, June 12, 2014

SURAT CINTA UNTUK JASMIN


 “Cinta adalah suatu bentuk keindahan yang tak dapat dilihat dengan cara apapun. Melainkan hanya dapat dirasakan dalam setiap hati manusia. Dan sejak aku bertemu denganmu, aku merasakan itu. Sungguh aku merasakannya. Duhai, Jasminku!”


SANG PANGLIMA PERANG IRAK Part III

Cerita sebelumnya lihat di : http://hakimwilliam.blogspot.com/2014/06/sang-panglima-perang-irak-part-ii.html

***

Tidak banyak yang tahu kalau Irak menang dalam perperangan melawan Amerika dikomandoi oleh Yong Dolah. Pasalnya, tidak ada media-media dari belahan bumi manapun yang membahas tentang latar belakang kemenangan tersebut. Mereka hanya tahu bahwa Irak menang. Irak sudah terbebas dari jajahan Amerika. Itu saja yang mereka beritakan.

Akhir-akhir ini, atas penuturan langsung dari presiden Sadam Husein, barulah terungkap semuanya. Banyak media-media yang berbondong-bondong mewawancarai Sadam dan ingin tahu akan hal tersebut. Sadam lantas menceritakan semuanya. Tapi ia tidak berani membeberkan identitas Yong Dolah yang telah menjadi pahlawan untuk negaranya. Soalnya, Sadam takut Yong Dolah direpotkan oleh kerumunan-kerumunan wartawan. Belum lagi memikirkan kesibukan-kesibukan yang Yong Dolah miliki. Sadam takut Yong Dolah terganggu nantinya. Jangankan tidur, sampai-sampai makanpun tak bisa karena meladeni wartawan yang terus berdatangan.

Seiring dengan berjalannya waktu, juga wartawan-wartawan yang terus berdatangan hingga membuat Sadam kualahan, akhirnya Sadam Husein dengan berat hati memberi-tahukan identitas Yong Dolah. Dengan syarat, hanya boleh satu orang saja yang mewawancarai Yong Dolah. Kalau wartawan lain ingin tahu juga, tanyakan kepada wartawan yang mewawancarai. Dengan begitu, waktu dan kesibukan Yong 
Dolah tidak akan terganggu.

Setelah para wartawan setuju, Sadam langsung saja memberikan kartu nama Yong Dolah. Hanya ada nama dan nomor telfon. Tidak terdapat alamat di sana.

Atas inisiatif salah satu wartawan dari Hongkong,  Langsung salah seorang dari mereka menelpon dan meminta kesediaan dari Yong Dolah untuk diwawancarai.

Persetujuan mereka dapatkan. Hari, Tanggal, jam, dan Tempat, sudah ditentukan. Ada satu yang membuat mereka kaget dan tidak menyangka. Sebelumnya, banyak dari mereka mengira kalau panglima perang tersebut berasal dari negara yang mempunyai kuasa seperti Rusia, Jerman, Prancis, atau negara terkenal lain. Setelah mereka tahu, ternyata panglima perang yang bernama Yong Dolah berasal dari Indonesia. Dan yang mengejutkan lagi, Yong Dolah berasal dari pedalaman Indonesia, Sungai Pak Neng—daerah yang sering terlupakan. Mungkin sudah tak dianggap oleh Indonesia.

“Oiii, itu kampong saye tu ... ” Kata salah seorang wartawan dari harian Antah Barantah Pekanbaru.

“Aiii ... Betulkah? Ente tidak kibul kami?” timpal seorang wartawan dari Saudi Arabia.

“Iye, kau tak percaya? Coba tanya sama Mak aku, biasanya kalau orang tua-tua kampung kami saling kenal.”

Ijal, wartawan dari harian Antah Barantah tersebut, langsung mengeluarkan ha-pe dari saku celananya. Memencet tombol kipet, mencari kontak “Mama Q”. Lalu, Call.
Terdengar suara nada sambung. Beberapa detik kemudian....

“Halo ...” terdengar suara di seberang.

“Halo, Mak. Ini aku, Ijal. Saye nak tanya sedikit. Boleh?”

“Aiii ... sejak kapan kau tak boleh tanya sama Mak kau ini? Tanyalah selagi bisa bertanya.”

Sebelum lanjut bertanya, Ijal mengaktifkan loud-Speaker ha-penya.

“Begini, Mak. Kan saye nak wawancara orang. Yang nak di wawancara tu orang kampong kita, Sungai Pak Neng. Namanya Yong Dolah.”

“Siape?”

“Yong Dolah! Kenal Mak sama orang tu?”

“Aiii ... Ape pulak tak kenal. Itu Pak Cik engkau, Bahlul!”

‘Oiii, orang tuo ni, main bahlul-bahlul aje’ Ijal mengumpat dalam hati. Tapi, karena tak mau berlama-lama dengan hal yang tidak penting, Ijal lanjut bertanya.

“Betulkah, Mak. Pak Cik yang mane pulak tu?”

“Aiii ... Pak Cik yang selalu kau panggil ‘Yong’, ape kau tak kenal? Dio tu kan adek beghadek samo Pak Solihin, Bapak engkau! Masak kau tak kenal?” Jelas Emak Si Ijal dengan bahasa Melayu totoknya.

“Ooo ... Yong! Kalau Yong saye kenal, Mak. Tapi saye tak tau pulak selame ni kalau nama lengkapnya Yong Dolah.” Jelas Ijal semangat. Senang bukan main karena sudah mengetahui orang yang akan diwawancarai. Sesekali melirik dan menebar senyum ke wartawan lain.

Astaga. Baru saja wajah Ijal memancarkan kesenangan. Sudah disemprot lagi oleh Emaknya.

“Kau itu lah, waktu kecil tak mau mampus, dah besar nyusahkan orang aje. Sama Pak Cik sendiri pun dah tak ingat.”

“Bukan tak ingat, Mak. Lupa!” jawab Ijal enteng. “Dah dulu ye, Mak.”

“Eeeiii” potong Si Emak.

“Saye lagi sibuk...” balas Ijal memotong.

“Eiii ... Ijal.”

“Nanti saya telpon lagi.”

“Tunggu dulu Jal, Oiii ... ”

“Tapi kalau ingat.” Ijal nyengir,

“Anak celako kau, Jal ...”

“Miqum ...”

Tut tut tut tut tut. Telepon terputus.

“Huhh ...!” Ijal merasa lega. “kalian kalau kenal sama Mak saya, bukan main ribut.” Jelas Ijal kepada wartawan lain. “Kalau dia sudah mengomel. Lebih baik lari. Kalau tidak, apa yang ada, itu yang runtuh. Berjam-jam tak kan selesai-selesai.” Lanjutnya.

“Ih ... ih ... ih!” seorang wartawan asal Mesir menggeleng. “Masya Allah ... Ana, ente, wassalaaaam ...”

Wartawan lain juga terkesiap. Shock mendengar Emaknya Ijal—orang Melayu ngomel.

“Haaa ..., kalau begitu, ente sajalah yang wawancara. Nanti hasilnya ente kirimin sama  kita-kita lewat e-mail.” Kata wartawan asal Saudi Arabia, menyadarkan mereka kembali pada tujuan utama. Wawancara.

“Iya ... iya ... setuju!” timpal wartawan lain sambil mengeluarkan secarcik kertas. Lantas, menuliskan alamat email masing-masing.

Setelah menuliskan alamat email masing-masing, segera mereka serahkan kepada Ijal. Mereka sudah sepakat. Ijal pun dengan senang hati, mau. Jadilah yang akan melakukan wawancara adalah Ijal. Wartawan dari harian Antah Barantah Pekanbaru, yang juga keponakan dari Yong Dolah sendiri.

***

Setelah segala sesuatunya selesai, kini tibalah saatnya untuk melakukan wawancara.

Ijal sebagai wartawan harian Antah Barantah Pekanbaru, yang telah ditunjuk untuk melakukan wawancara telah tiba di Sungai Pak Neng. Salah satu daerah perkampungan yang terletak di Kabupaten Bengkalis. Konon katanya, dulu daerah itu pernah menjadi pusat kerajaan melayu terbesar di Riau. Laksamana Raja Di Laot, salah seorang raja yang pernah memimpin. Kalau pernah mendengar lagu “Zapin”-nya Iyet Bustami, tak asing lagi nama raja tersebut. Di sanalah Yong Dolah tinggal, sekaligus juga kampong Ijal sendiri.

Tak mau membuang waktu, Ijal langsung menuju rumah Yong Dolah.

Untuk mencapai rumah Yong Dolah, Ijal harus berjalan terlebih dahulu sekitar satu setengah kilo meter dari jalan besar. Menyusuri jalan setapak. Tak ada mobil lewat. Jalan kaki menjadi satu-satunya alternatif. Maklum sajalah, namanya juga pelosok yang jauh dari ibu kota. Tak tau mau terkenal atau tidak. bekas kerajaan atau kandang ayam, yang namanya kampung tetaplah kampung. Tak pernah diperhatikan.

Setelah berjalan sekitar kurang lebih lima belas menit, tibalah Ijal di depan rumah Yong Dolah.

“Mequm ...” sahut Ijal, mengucapkan salam di depan rumah Yong Dolah.

Tak ada yang menjawab. Rumah tampak kosong. Tak satupun terlihat orang yang ada di dalam rumah. Lengang.

Pintu tak di kunci. Hanya tertutup dari dalam. Tanpa sungkan, karena itu rumah Pak Ciknya sendiri, Ijal memutuskan untuk masuk.

Memang tak seorangpun yang ada di dalam rumah. ruang tamu, kosong. Periksa kamar, kosong. Kamar mandi, kosong. Setelah Ijal melangkah ke dapur, terdengar suara orang menyapu. Rupanya Cik Minah—Istri Yong sedang menyapu di belakang rumah.

“Cik.” Sahut Ijal dari jendela dapur. “Letih aku memanggil tak ada seorangpun yang menyahut.”

“Oi, engkau, Jal. Tak dengar gara Cik lah, Jal. Kapan kau tiba?” Cik Minah meletakkan sapu lidi. Segera ia masuk ke dalam rumah.

“Baru saja, Cik.” Ijal mendekati Cik Minah, mengulurkan tangan, menyalami Cik Minah.

“Sehat kau, Jal?” Tanya Cik Minah.

“Alhamdulillah, kayak gini lah, Cik.” Ijal mengembangkan senyum. Sambil perlahan melepaskan jabat tangan. “Yong mane, Cik?” Ijal kembali bertanya.

“Haaa ... Orang tua tu dari tadi tak ada di rumah. Dia pun pergi tak bilang mau kemana. Biasanya Yong kau tu kalau tak di rumah, duduk di kedai kopi Si Hindun. Pergi lah kau tengok dia di sana.”

“Oh.” Jawab Ijal singkat.

“Ada perlu apa kau sama Yong kau tu, Jal?” Cik Minah bertanya lagi.

“Tak ada apa-apalah Cik. Cuma ada perlu sedikit.” jawab Ijal sekenanya. “Kalau begitu, biarlah saye pergi tengok Yong dulu ya, Cik.”

“Haa, iya!” Cik Minah mempersilahkan.
Ijal melangkah keluar. Langsung menuju kedai kopi Cik Hindun yang jaraknya tiga ratus meter dari rumah Yong Dolah.

Perkampungan sunyi. Kiri kanan jalan lengang. Biasanya kalau siang, sebagian penduduk kampung pergi ke laut untuk mencari ikan. Sebagian lagi ke ladang mengurusi karet atau lahan kelapa sawit. Makanya tampak lengang sekali. Jarang terlihat penduduk berkeliaran.

Begitulah pekerjaan mereka. Tidak ada pabrik. Tidak ada perkantoran. Eh, tapi ada satu kantor di kampung ini. Ya, kantor kepala desa. Jauh lagi di dalam sana. Jaraknya dua kilo meter dari rumah Yong Dolah. Juga ada SD di samping kantor kepala desa. Satu-satunya sekolah yang di bangun tahun 1995.

Setelah berjalan beberapa menit, sampailah Ijal di warung kopi Cik Hindun. Benar saja yang dikatakan Cik Minah. Yong Dolah ada di warung kopi itu.

“Oiii, Yong. Sedap betul nampak.” Ijal menyapa Yong Dolah yang tengah menyeruput kopi hitam dalam cangkir.

 “Oi, Kau, Jal? Lama tak keliahatan batang hidung kau, Oi! Duduk, duduk sini. Nak minum kopi kau, Jal?” Yong Dolah meletakkan cangkir kopinya. Mempersilahkan Ijal duduk dan menawarkan kopi.
Boleh juge.” Jawab Ijal singkat.

Yong Dolah meneriaki Cik Hindun, pemilik warung kopi. Memesan kopi, juga meminta tambah goreng pisang dalam piring.

“Apa kabar, Yong? Payah betul mencari Yong. Sampai di kedai kopi baru jumpa.” Ijal membuka percakapan. Basa-basi.

“Kabar baik. Tak ada Yong kemana-mana. Di warung kopi inilah setiap hari Yong pergi minum kopi. Tapi, sekali-sekali, kapan Yong suntuk di kampong ini, kadang-kadang Yong ke Singapura, Kadang-kadang ke Malaka. Itulah kerja Yong.”

“Ape Yong buat di Singapure, Malaka tu?” Tanya Ijal ingin tahu.

“Tak ada. Palingan pergi makan siang. Kalau tidak pergi buang air saja di sana.” Jelas Yong Dolah di sela-sela menyeruput kopi.

“Oi, berarti banyak duit Yong kalau gitu?”

“Banyak tu tidaklah begitu banyak. Tapi kalau untuk ke luar negeri samo beli pulau Singapura tu masih berlebih duit Yong.”

Ijal terkesiap. Tak percaya dengan apa yang Yong Dolah katakan.

“Dari mana Yong dapatkan duit tu?” tanya Ijal kembali.

“Tak perlu lah Yong ceritakan. Karena, kalau Yong ceritakan memakan waktu bertahun-tahun. Sejak dari Yong kecil, sampai dah tua seperti ini.” Jelas Yong Dolah.

“Di Bank mana Yong menyimpan duit, Yong?” Ijal semakin ingin tahu saja.

“Yong paling tak gemar menyimpan duit di Bank. Yong paling suka nyimpan duit bawah bantal.” Tegas Yong Dolah.

“Oh.” Ijal mengangguk. Entah percaya atau tidak. ngangguk sajalah. Berusaha menjadi pendengar yang baik.

Seketika kopi dan goreng pisang pesanan datang.

“Minum, Jal.” seru Yong Dolah mempersilahkan Ijal meminum kopinya.

Tanpa disuruh dua kali, Ijal mengambil cangkir berisi kopi hitam di hadapannya. Masih panas. Dihembus sedikit, lantas ‘sruuppp’.

Kopi hitam sudah menjadi minuman favorit orang kampung sejak dulu. Rata-rata, setiap penduduk Sungai Pak Neng, mempunyai ritual minum kopi setiap pagi di rumah masing-masing. Kebanyakan sih, laki-laki. Tapi banyak juga emak-emak yang suka. Kalau sedang malas membuat sendiri di rumah, banyak yang datang ke warung-warung kopi. Ada sekitar tiga sampai lima warung kopi di Sungai Pak neng. Tapi yang paling lama dan terkenal, warung kopi Cik Hindun. Sudah go internasional. (hehe)

“Haa, tumben  kau balik ke kampung ni, Jal. Ada perlu apa?” Yong Dolah melanjutkan pembicaraan.

“Begini, Kami dengar kabar, Yong pernah menjadi panglima perang suka-rela membela negara Sadam Husein. Betul itu, Yong?” Ijal membuka pertanyaan.

“Betol!”

“Boleh Yong ceritakan?”

“Boleh la. Kenapa pula tak boleh. Kau ni menyanyah!” Jawab Yong Dolah dengan senang hati. Bersiap untuk menceritakan pengalamannya tersebut.

“Tunggu kejap, Yong.”

Ijal segera membuka tas yang dari tadi ia sandang. Mengeluarkan alat perekam. Menyetel sedikir. Dan memulai wawancara.

“Jadi macam mana ceritanya, Yong?”

“Begini,” Yong Dolah diam sebentar. Mengambil napas. Kemudian melanjutkan.

“Waktu Yong minum kopi di warung ini. Ada anak-anak menjual surat kabar. Entah kenapa, Yong tertarik dengan surat kabar tu. Yong beli satu. Lalu Yong baca halaman demi halaman. Tak sengaja, namapak gara Yong berita tentang perang Irak. Menggelegak hati Yong baca berita tu.”

“Apa pasal, Yong?” potong Ijal.

“Iya lah. Siapa yang tak geram bace berita tu? Anak kehilangan bapak. Istri kehilangan suami. Rumah yang cantik kena bom. Gadis-gadis cantik banyak yang mati. Padahal nikah pun belum. Yang bujang begitu pula. Disebabkan perang itu. Geram betul hati Yong, Yong tinggalkan kopi, lalu Yong balik ke rumah. Yong suruh bini Yong mengemas pakaian. Bini Yong heran. ‘Apa pasal orang tua ni? Buang tabiat?’ kata istri Yong. Yong jawab, ‘Orang perempuan urus sajalah dapur, engkau tu tak tahu ini soal kemanusiaan. Itu Sadam Husein berperang melawan tentara Amerika yang kafir tu!’ mendengar itu, bini Yong pun terdiam. Setelah dikemas semua pakaian, Yong pun segera berangkat.”

“Menggunakan apa Yong berangkat?” Tanya Ijal yang terus mendengarkan.

“Awalnya Yong mau berdayung sampan. Tapi tiba-tiba Yong dapat telpon dari Sadam. Dia bilang, biar dia suruh prajuritnya yang datang jemput Yong. Jadilah Yong berangkat pakai pesawat khusus yang didatangkan Si Sadam. Pesawat tu turun di Lapangan Tugu Bengkalis. Pergi lah Yong ke sana.”

“Tiba di sana, Yong pun naiklah. Gemetar juga hati Yong naik pesawat tu. Bunyi mesinnya saja bukan main kencang. Yong bertambah takut. Dan ketika Yong ketakutan itulah Yong tak sengaja kentut. Setelah Yong melepaskan kentut dari perut, Yong pun sampai depan istana Sadam Husein. Yong disambut hangat oleh Sadam bersama rakyat Irak. Terus dipersilahkan Yong masuk kedalam istananya itu.”

“Dalam istana, Yong bilanglah sama Si Sadam, ‘Dam, kita tak punya waktu banyak. Secepatnya kita harus mengusir tentara Amerika agar berambus dari Irak ini.’ Mendengar semangat Yong yang berapi-api, Saddam langsung menyerahkan tongkat komando perang kepada Yong.”

“Setelah Yong diberikan kepercayaan oleh Saddam, maka Yong pun melakukan pemeriksaan tentara Irak dimedan perang, Yong pun pergilah kegurun pasir. Lima menit kemudian, Yong sampai digurun pasir tempat dimana tentara irak berperang. Ketika Yung melihat tentara Irak hati Yung sedih betul.”

“Kenapa Yong sedih?” Ijal penasaran.

“Sedihlah ... sebab, tentara Irak tidak bersemangat sedikitpun. Yong berpikir bagaimana caranya mengembalikan semangat mereka. Pikir punya pikir, haaa…. dapatlah Yong akal, dengan semangat empat lima, Yong hentam menyanyi lagu potong bebek angsa. Mendengar lagu potong bebek angsa itu, tak lengah tentara Irak langsung tegak.”

“Apa sebabnya Yung?”

“Haaa ...  sebabnya begini, setelah Yong buka catatan Yong dalam Kocek, tenampaklah disitu bahwa tentara Irak sudah seminggu tak makan.”

“Apa hubungan dengan lagu potong bebek angsa, Yong?”

” Begini, mendengar lagu Yong tu, tentara Irak mengira telah perang. Komandan baru mereka, tentulah Yong mereka maksudkan akan menyembelih angsa. Jadi supaya mereka dapat daging itik dan angsa, mereka bergegaslah berperang. Dalam peperangan itu, maaak…maaak…maak! Tentara Irak macam hantu. Menembak sana menembak sini. Pihak musuh banyak mati. pesawat tempur musuh habis macam tepung berderai dari atas. Mendengar kemenangan tentaranya, Sadam Hussein paling suka. Dan sebagai tanda ucapan terima kasihnya, Yong dihadiahkan kain sarung. Dan kain sarung itu, bini Yung pakai sekarang.”

“Setelah perang selesai, apakah tentara Irak meminta bebek dan angsa, Yong. Disana kan tak ada bebek dan angsa?”

“Itulah Yong risaukan. Tapi Yong tak habis akal, Yong diam-diam balik ke Sungai Pak Neng pakai kapal terbang pribadi saddam Hussein tu.”

“Dengan siapa Yong naik pesawat pribadi Saddam tersebut?”

“Seorang sajo untuk apo ramai-ramai.”

“Apa Yong bisa menerbangkan pesawat?” Ijal terus memburu pertanyaan.

“Apo pulak tak bisa, mainan dari kecil tu, Oi! Tapi Yong agak takut juga  kalau Yong balik sendiri. Untung dalam sekejab itu pula ada melintas kapal terbang lain. Yung klakson kapal terbang supaya dekat. Setelah kapal terbang mendekat, Yung cakaplah pada pengemudinya, ‘Hei saudara, boleh pinjam pengemudi serap (Co. Pilot. Red) sekejab,’ kata Yong. ‘Apa pulak salahnya, Yong,’ balas pengemudi tu. Setelah pengemudi serapnya masuk Yong pun tancap gas sampai Bengkalis. Sampai rumah, Yong angkut itik dan angsa Yong ke Irak. Bini Yong marah-marah. Tapi Yong cakap pada bini Yong, ‘ini adalah sedekah.’ Kata Yong. Mendengar sedekah, bini Yong pun diam. Setelah semua dah selesai masuk ke kapal terbang, Yong pun terbanglah ke Irak. Sampai di Irak kami pun berpesta sampai pagi.”

“Dengar - dengar kabar, Yung pernah mengagalkan meledakkan rudal patriot Amerika di irak, bagaimana pulak ceritanya tu Yung?”

“Betul ... Ceritanya begini. Yong buat pengumuman dan Yong sebarkan kepada seluruh rakyat Irak supaya membentangkan kelambu di rumah, kantor dan semuanya dengan jarak antara bumbung dengan bangunan lima meter. Orang tu patuh saja dengan apa yang Yong suruh. Setelah semuanya selesai seperti yang Yong perintahkan, Yong pun duduk tenang dengan Sadam minum kopi dan makan sagu rendang sambil mununggu pasukan Amerika melepaskan rudal. Sadam husien nampak gelisah macam ayam betina hendak betelur. Sekejap tegak, sekejap duduk. Lepas tu, jalan kiri duduk dekat Yong. Kemudian Sadam bertanya kepada Yong,  ‘Yong, berhasil ndak, Yong?’ Yong jawab, ‘tenang-tenang sajalah kau, Dam. Kalau tak berhasil kau balikkan aku ke Bengkalis.’ Kata Yong menenangkan hati Si Sadam.”

“Lima menit sesudah itu, dari jauh terdengar 30 bijik rudal pasukan Amerika dilepaskan. Sadam yang tadi seperti ayam hendak bertelur, berubah macam ayam sakit flu burung. Sedangkan Yong tenang-tenang saja. 10 menit sesudah itu Sadam tersenyum kepada Yong. Lalu Yong dan Sadam meninjau keseluruh kota. Yong tengok 30 bijik rudal Amerika tersangkut atas kelambu yang Yong suruh bentang tadi. Sadam bukan main senang. Dipeluknyo Yong erat-erat.”

“Waktu balik katanya Yong sempat ngebom Amerika?”

“Ya, betul tu. Setelah rudal patriot di kumpulkan, Yong mintak satu pada Saddam, ‘kenang-kenangan untuk anak cucu, Dam.’ Kata Yong. Petang harinya Yong balik pakai pesawat yang menjemput dulu waktu yung berangkat. Yong tak takut lagi naik pesawat karna Yong teringat pado permaisuri Yong di kampong. Perjalanan jadi terasa begitu lama. Yong terus merenung dalam pesawat. Tiba-tiba, kapten pesawat memenggil Yong. ‘Jendral, inilah pulau Amerika itu,’ kato Kapten sambil menunjuk ke bawah. Melihat pulau Amerika itu, Yong teringat akan rudal yang Yong mintak sama Sadam. Yong ambik rudal tu di bagasi dan Yong campakkan ke bawah. Lima menit sesudah itu Amerika tampak berasap. Dalam hati Yong, ‘mudah-mudahan amerika insyaf.’ Tapi sampai sekarang tak insyaf-insyaf. Hendak rasanya Yong mengbom lagi. Tapi ape kan daya Yong dah tua.”

“hahaha....” Ijal tertawa medengar cerita Yong. “Memang tak kesah Yong ni ye.”

Setelah Ijal mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Yong tentang pengalaman perangnya membela Irak. Ijal segera menghabiskan kopi. Rencananya setelah ini langsung balik ke tempat kerja. Ijal ingin segera menerbitkan cerita Yong ke redaksi harian antah barantah. Selain itu, dia juga harus mengirimkan email kepada rekan wartawannya dari media lain. masih banyak kerjaan. Jadi Ijal tak bisa berlama-lama.
“Haaa... kalau begitu terima kasih banyak sudah bersedia berbagi cerita, Yong. Saya gerak dulu nak ke kantor.”

“Oi ... kenapa cepat betul?” Yong melotot, mulutnya mengangap.

“Banyak kerja numpuk, Yong. Belum lagi buat naskah hasil wawancara dengan Yong. Kalau cepat selesai kan senang pulak nak diterbitkan.” Jelas Ijal sambil memasukkan kembali alat perekam suara ke dalam tasnya.

Yong Dollah ngangguk. “Iyalah kalau githu.”

“Ini kopi Yong biar saya saja yang bayar, Yong.” Tawar Si Ijal.

“Eh, tak usah lagi. Biar Yong saja bayar sendiri.” jawab Yong menolak.

“Tak apalah Yong.”

“Tak usah.”

“Tak apalah.”

“Yong cakap tak usah...”

Yong dan Ujang saling tarik ulur. Si Ujang menawarkan untuk membayarkan kopi Yong. Yong menolak. Akhirnya Yong pun mengalah. Terpaksalah Yong menerima tawaran Ujang.

“Iyelah kalau begitu. Yong cakap tak usah tapi kau memaksa. Kalau begitu sekalian lah bayarkan utang-utang kopi Yong sekali di kedai ni.”

“Aaiii....Berapa banyak utang kopi Yong?”

“Tunggu sekejap,” segera Yong memanggil Cik Hindun.“Ndun, berapo banyak hutang saya di warung kau ni?”

“Tunggu kejab Yong.”

Cik Hindun mengambil buku catatan di dalam laci. Dan segera menghitung total hutang Yong selama sebulan.

“Tiga ratus tujuh puluh empat ribu Yong.” Teriak Cik Hindun.

“Ha, pergilah kau bayarkan langsung ke Cik Hindun tu.” Yong nyengir, tertawa kecil.

“Alamakkk... utang ape pulak sebanyak ini ni???” Ujang menyesal. Menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali.“Kalau tau sebanyak ini, tak kan lah aku tawarkan bayar kopi Yong tadi. Nasib .... nasib!”